Laman

Search

Jumat, 03 Februari 2012

Kedermawanan Di Tengah Kemiskinan


Al-Mas’udi dalam kitab Murujuzd Dzahab VII:73-75, dan Al-Qadhi Iyadh dalam Tartibul Madarik III: 212-213, menuturkan tentang biografi pakar peperangan dan sirah, Muhammad bin Umar Al-Waqidi (wafat tahun 207 H), bahwa Muhammad bin Sa’d telah berkata, ”Al-Waqidi pernah melihatku sedang gundah. Ia berkata kepadaku, ’Jangan gundah, karena rezeki datang dari arah yang tidak terduga.’ Suatu hari aku mengalami kesulitan sampai aku harus menjual kudaku. Yahya bin Khalid menungguku dalam waktu yang lama. Aku pun meminta maaf kepadanya, hingga akhirnya ia memahami kondisiku. Ia memberiku uang 500 dinar, lalu aku membawanya pulang ke rumah. Dalam benakku uang itu akan aku gunakan untuk membayar hutang dan memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, tiba-tiba pintu rumahku diketuk oleh seorang laki-laki dari Madinah yang telah dirampok hartanya. Ia adalah keturunan Abu Bakar Ash-Shidiq radhiallahu ‘anhu. Ia mengeluhkan keadaannya kepadaku. Maka, aku memberikan sisa uang itu kepadanya dan aku gagal untuk membeli kuda baru.

Yahya bin Khalid menungguku, maka aku beritahukan kepadanya apa yang telah terjadi. Maka, ia mendatangi laki-laki keturunan Abu Bakar tadi dan menanyainya. Laki-laki itu menjawab, ‘Benar, aku telah menerima dinar-dinar itu darinya, namun ketika aku sampai di rumah, datanglah fulan keturunan Anshar. Ia mengadukan keadaannya kepadaku, maka aku pun memberikan dinar-dinar itu kepadanya.’

Yahya mendatangi keturunan Anshar itu. Ia bertanya kepadanya, apakah laki-laki keturunan Abu Bakar itu telah memberinya uang ? Laki-laki itu pun menceritakan kejadian yang sebenarnya, dan Yahya bin Khalid takjub dengan kedermawanan kami.

Lalu. Yahya memberiku seribu dinar lagi, juga kepada laki-laki keturunan Abu Bakar dan keturunan Anshar itu dalam jumlah yang sama. Di tambah lima ratus untuk istriku, karena kesedihannya saat aku memberikan dinar-dinar itu kepada lai-laki keturunan Abu Bakar.”

Al-Waqidi menuturkan, “Aku memiliki dua teman, salah seorang dari keduanya adalah Al-Hasyimi. Kami sangat akrab laksana satu jiwa. Suatu saat aku ditimpa kesulitan yang amat sangat, padahal hari raya Ied sudah dekat. Istriku berkata kepadaku, ‘Kita masih bisa bersabar menghadapi kesulitan dan kesengsaraan ini,namun anak-anak kita, hatiku merasa teriris karena kasihan kepada mereka. Mereka mellihat anak-anak tetangga berhias dan berpakaian bagus di hari raya, sementara anak-anak kita masih tetap dengan pakaian usang mereka. Sekiranya engkau bisa mengusahakan sesuatu, sehingga kita bisa membelikan mereka pakaian yang pantas.’

Maka, aku menulis surat kepada kawanku, Al-Hsyimi. Aku meminta bantuannya. Ia pun mengirimkan kepadaku sebuah kantong bersegel. Ia menyatakan bahwa isinya uang seribu dirham. Aku belum berbuat sesuatu dengan uang itu, namun tiba-tiba kawanku yang lain menulis surat kepadaku. Ia mengeluhkan kepadaku seperti yang pernah aku keluhkan, maka kantong tersebut aku kirim kepadanya. Lalu, aku pergi ke masjid. Aku bermalam disana, karena aku merasa tidak enak kepada istriku. Kemudian aku pulang ke rumah. Saat aku masuk menemuinya, ia menganggap baik apa yang telah aku lakukan, sehingga ia tidak menyalahkanku.

Ketika dalam kondisi seperti itu, tiba-tiba datanglah temanku, Al-Hasyimi, dengan membawa kantong tersebut seperti sedia kala. Ia berkata kepadaku, “Katakanlah kepadaku dengan jujur, apa yang engkau lakukan terhadap uang yang telah aku kirim kepadamu?” Maka, aku pun menceritakan apa yang telah terjadi.

Ia berkata, “Engkau mengirim surat kepadaku meminta bantuanku. Aku tidak mempunyai sesuatu pun, selain apa yang aku kirim kepadamu. Dan, aku menulis surat kepada teman kita untuk meminta bantuan, maka ia pun mengirimkan kantongku ini masih dengan segelnya.”

Al-Waqidi berkata, “ Maka, kami memakai seribu dirham itu secara bersama-sama. Kami membaginya menjjadi tiga, setelah kami menyisihkan seratus dirham untuk istriku. Berita ini sampai ke telinga Al-Makmun. Ia memanggilku, lalu aku pun menjelaskan kejadian sebenarnya. Maka. Ia member kami 7000 dinar. Masing-masing dari kami mendapat 2000 dinar, dan 1000 dinar untuk istriku.”

Sumber: Dahsyatnya Kesabaran Para Ulama, Syaikh Abdul Fatah, Zam-Zam Mata Air Ilmu, 2008
Judul asli: Shafahat min Shabril ‘Ulama’, Syaikh Abdul Fatah, Maktab Al-Mathbu’at Al-Islamiyyah cet. 1394 H./1974 M.

Artikel www.KisahMuslim.com Selengkapnya...

Kamis, 02 Februari 2012

Kiat-kiat Meraih Doa Mustajab


Orang yang meninggalkan doa adalah orang yang paling merugi. Sebaliknya seorang yang berdoa tidak akan pernah merugi atas doa yang ia panjatkan, selama ia tidak berdoa untuk suatu dosa atau memutuskan tali silaturahim. Karena doa yang ia panjatkan pasti disambut oleh Allah, bisa dengan mewujudkan apa yang ia minta di dunia atau mencegah keburukan atas dirinya yang setara dengan apa yang ia minta atau menyimpannya sebagai pahala yang lebih baik baginya di akhirat kelak. Dalam sebuah hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

مَا مِنْ أَحَدٍ يَدْعُو بِدُعَاءٍ إِلَّا آتَاهُ اللّٰهُ مَا سَأَلَ أَوْ كَفَّ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهُ مَا لَمْ يَدْعُ بِـإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ

“Tidak ada seorang yang berdoa dengan suatu doa kecuali Allah akan mengabulkan apa yang ia minta atau Allah menahan keburukan atas dirinya yang semisal dengan apa yang ia minta selama ia tidak berdoa untuk suatu perbuatan dosa atau untuk memutuskan tali silaturahim.” (HR at-Tirmidzi dan Ahmad. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ (5678))

Oleh karena itu janganlah seorang hamba merasa keberatan meminta kepada Rabbnya dalam urusan-urusan dunianya, meskipun urusan yang sepele, terlebih lagi dalam urusan akhirat. Karena permintaan itu merupakan bukti ketergantungan yang sangat kepada Allah dan kebutuhannya kepada Allah dalam semua urusan. Karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam telah mengatakan,

إِنَّهُ مَنْ لَمْ يَسْأَلْهُ يَغْضَبْ عَلَيْهِ

“Sesungguhnya barang siapa yang tidak meminta kepada Allah, maka Allah akan marah kepadanya.” (HR at-Tirmidzi (3373) dan Ibnu Majah (3727) dari Abu Hurairah. Lihat Shahih at-Tirmidzi)

Oleh karena itu dahulu para salaf senantiasa berdoa kepada Allah sampai-sampai ada di antara mereka yang berdoa agar rasa garam bisa terasa pada makanannya.
Beberapa Kiat Meraih Doa Mustajab

1. Memasang niat yang benar dan ikhlas

Yaitu untuk melaksanakan ibadah kepada Allah dan menggantungkan kebutuhan kepada-Nya. Karena siapa saja yang menggantungkan hajatnya kepada Allah, niscaya ia tidak akan rugi selama-lamanya.

2. Memanjatkan doa dalam keadaan bersuci

Inilah yang dianjurkan dan lebih afdhal. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

إِنِي كَرِهْتُ أَنْ أَذْكُرَاللهَ عَزَّوَجَلَّ إِلَّا عَلَى طُهْرٍ أَو قَالَ عَلَى طَهٰرَةٍ

“Sesungguhnya aku tidak suka menyebut nama Allah melainkan dalam keadaan suci (atau beliau mengatakan: dalam keadaan thaharah).” (Diriwayatkan Abu Dawud dan dishahihkan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah (834))

Hanya saja jika seorang berdoa dalam kondisi tidak berwudhu hal itu tidak mengapa.

3. Mintalah kepada Allah dengan menengadahkan kedua telapak tangan

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam telah bersabda,

إِذَا سَأَلْتُمُ اللّٰهَ فَاسْأَلُوهُ بِبُطُونِ أَكُفِّكُمْ وَ لَا تَسْأَلُوهُ بِظُهُورِهَا

“Jika kamu meminta kepada Allah maka mintalah dengan menengadahkan telapak tangan dan janganlah kamu memintanya dengan menengadahkan punggung telapak tangan.” (HR Abu Dawud (1486) dari Malik bin Yasar. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud (1318))

Atau dengan cara mengangkat tangan hingga nampak putih ketiaknya.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

مَا مِنْ عَبْدٍ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَتَّى يَبْدُوَ إِبِطُهُ يَسْأَلُ اللّٰهَ مَسْأَلَةً إِلَّا آتَاهَا إِيَّاهُ

“Tidaklah seorang hamba mengangkat kedua tangannya hingga nampak ketiaknya dan memohon suatu permohonan kecuali Allah mengabulkan permohonannya itu …” (HR at-Tirmidzi (3603) dari Abu Hurairah. Lihat Shahih at-Tirmidzi)

Kaifiyat seperti itu menunjukan ketergantungan seorang hamba kepada Allah, kebutuhannya kepada Allah dan permohonannya yang sangat kepada-Nya.

4. Mulailah dengan mengucapkan hamdalah dan puji-pujian kepada Allah Ta’ala serta bershalawat atas Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam

Hal ini akan membuat doa kita lebih terkabulkan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam pernah mendengar seorang laki-laki berdoa dalam shalatnya dan dia tidak mengagungkan Allah dan tidak bershalawat atas Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam. Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

“Jika salah seorang dari kalian shalat hendaklah ia memulainya dengan mengucapkan hamdalah serta puja dan puji kepada Allah, kemudian bershalawat atas Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam, kemudian setelah itu ia berdoa apa yang ia inginkan.” (HR Abu Dawud (1481) dan an-Nasa’i (44/3) dan at-Tirmidzi (3477) dan dishahihkannya, dari Fudhail bin Ubaid. Lihat Shahih Abu Dawud (1314))

“Semua doa terhalang sehingga diucapkan shalawat atas Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam.” (HR ad-Dailami di dalam Musnad al-Firdaus (III/4791) dari Ali, dalam hadits lain diriwayatkan dari Anas. Diriwayatkan juga dari Ali secara mauquf yang diriwayatkan ath-Thabrani dalam al-Ausath, dan al-Baihaqi di dalam asy-Syu’ab. Al-Haitsami dalam al-Majma’ (X/160): “Para perawinya tsiqat.” Lihat Shahih al-Jami’ (4523))

5. Mulailah dengan berdoa untuk diri sendiri terlebih dahulu

Itulah tuntunan doa dalam al-Qur’an seperti yang disebutkan dalam ayat,

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ

“Ya Rabbi! Ampunilah aku dan kedua ibu bapakku.” (QS Nuh: 28)

6. Bersungguh-sungguh dalam meminta

Jangan ragu dalam berdoa atau mengucapkan pengecualian, “jika engkau berkehendak ya Allah, berikanlah kepadaku ini dan ini.”

7. Menghadirkan hati dalam berdoa

Seorang insan hendaklah menghadirkan hati, memusatkan pikiran, mentadaburi doa yang ia ucapkan, serta menampakkan kebutuhan dan ketergantungannya kepada Allah. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

“Berdoalah kepada Allah sementara kalian yakin doa kalian akan dikabulkan. Ketahuilah sesungguhnya Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai dan lengah.” (HR at-Tirmidzi (3479) dan al-Hakim (493/1) dari Abu Hurairah. Lihat Shahih Sunan at-Tirmidzi)

8. Gunakan kata-kata singkat dan padat serta doa-doa yang ma’tsur

Tidak syak lagi bahwa kata-kata yang paling padat dan paling singkat dan paling agung berkahnya adalah doa-doa yang diriwayatkan dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam. Namun jika tidak hafal, ia boleh berdoa dengan bahasa yang ia pahami.

9. Bertawasul dengan nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala

Sebagaimana firman Allah,

وَلِلَّهِ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا

“Hanya milik Allah asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu.” (QS al-A’raf: 180)

Atau bertawasul dengan menyebut amal shalih yang telah dia lakukan sebagaimana disebutkan dalam hadist shahih yang mahsyur tentang tiga orang yang terperangkap di dalam gua.

10. Memperbanyak ucapan ‘Yaa Dzal Jalaali wal Ikraam’

Sesungguhnya Nabis shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

أَلِظُّو ابِيَا ذَاالْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

“Ulang-ulangilah ucapan Yaa Dzal Jalaali wal Ikraam.” (HR at-Tirmidzi (3525) dan yang lainnya. Dari Anas. Lihat Shahih at-Tirmidzi (2797). Diriwayatkan juga dari hadits Rabi’ah)

Yaitu selalu ucapkan dan perbanyaklah ucapan itu dalam doa-doa kalian. Karena hal itu merupakan kata-kata pujian yang sangat tinggi bagi Allah. Dan memperbanyaknya akan membantu terkabulnya doa.

11. Mencari waktu-waktu yang mustajab dan tempat-tempat yang utama

Ada beberapa waktu dan tempat mustajab untuk berdoa yang telah disebutkan dalam sejumlah nash syar’i. Dan sebaiknya orang yang berdoa mencari waktu tersebut dan memperbanyak doa pada waktu-waktu tersebut. Di antaranya adalah waktu antara adzan dan iqamah, di dalam shalat, ketika berpuasa, di bagian akhir malam, hari-hari di bulan Ramadhan, sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, pada hari Arafah, di medan perang, saat hujan turun dan tempat-tempat lain yang disebutkan dalam atsar.

12. Memperbanyak doa pada saat-saat lapang

Perbanyaklah doa pada saat lapang supaya Allah mengabulkan permintaan kita pada saat-saat sempit. Termasuk hikmah Allah dalam mentakdirkan suatu bala/musibah, bahwa Allah suka mendengarkan rintihan seorang hamba kepada-Nya. Dan suka melihat mereka kembali kepada-Nya pada saat-saat sempit. Apabila seorang insan bertadharru’ pada saat-saat lapang, niscaya akan segera dikabulkan permintaannya di saat ia dalam kesempitan.

Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَسْتَجِيبَ اللّٰهُ لَهُ عِنْدَ الشَّدَاءِدِ وَالكَرْبِ فَلْيُكْثِرِ الدُّعَاءَ فِي الرَّخَّاءِ

“Barangsiapa suka Allah mengabulkan doanya pada saat-saat sempit dan sulit hendaklah ia banyak-banyak berdoa pada saat-saat lapang.” (HR at-Tirmidzi (3382) dan al-Hakim (I/544) dan dishahihkannya, lalu disetujui oleh adz-Dzahabi dari Abu Hurairah. Lihat Shahih Sunan at-Tirmidzi)

***

Diringkas dari Panduan Amal Sehari Semalam, Abu Ihsan al-Atsary & Ummu Ihsan Choiriyah, Pustaka Darul Ilmi 2009 Selengkapnya...

3 Hadits Lemah Yang Populer Tentang Puasa




Ada 3 hadits yang sangat populer yang berkaitan dengan puasa yang ternyata hadits-hadits tersebut lemah atau dha’if. Ini perlu diketahui dalam rangka membersihkan dienul Islam dari kesalahan pemahaman akibat tersebarnya hadits-hadits lemah tersebut. Terlebih lagi kita tentu tidak ingin terkena ancaman sebagai pendusta dengan mengatasnamakan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam padahal bukan dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.

Pengertian hadits secara istilah adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam baik berupa ucapan, perbuatan, ketetapan, perangai maupun sifat jasad beliau shalallahu ‘alaihi wa salam. [1]

Pengertian ini sama dengan pengertian as-sunnah, khobar dan atsar. Berkata al-Hafizh Ibnu Hajar, “Menurut ulama ahli hadits bahwa khobar itu sama dengan hadits dan ada yang mengatakan bahwa hadits adalah yang datangnya dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam sedangkan khobar adalah yang datangnya dari selain beliau. Juga ada yang berpendapat bahwa semua hadits itu khobar namun tidak semua khobar itu hadits.” [2]

Adapun lemah dalam bahasa Arabnya الضَّعِيفُ yang secara bahasa berarti kebalikan dari kuat, baik tidak kuat secara fisik maupun maknawi. Dan yang dimaksud di sini adalah tidak kuat secara maknawi.

Dari sini dapat kita simpulkan bahwa hadits lemah adalah hadits yang tidak memiliki kriteria hadits shahih dan hasan. Atau dengan bahasa yang lebih bagus lagi bahwa hadits lemah adalah hadits yang tidak memiliki kriteria untuk bisa diterima. [3]

Berikut ketiga hadits lemah yang populer berkaitan tentang puasa:

صُوْمُوْاتَصِحُّوْا

“Berpuasalah niscaya engkau akan sehat”

Lemah

Diriwayatkan oleh Thobroni dalam al Ausath 2/225, Abu Nu’aim dalam ath-Thib dari jalan Muhammad bin Sulaiman bin Abi Dawud, telah mengabarkan kepada kami Zuhair bin Muhammad dari Suhail bin Abi Sholih dari bapaknya dari Abu Huroiroh secara marfu’.

Sisi cacatnya adalah Zuhair bin Muhammad, dia itu orang yang lemah.

Berkata Imam al-’Iroqi dalam Takhrij Ihya’: “Diriwayatkan oleh Thobroni dalam al-Ausath dan Abu Nu’aim dalam ath-Thibbun Nabawi dengan sanad lemah”.

Bahkan ash-Shoghoni dalam al-Maudhu’at agak berlebih-lebihan saat menyatakan bahwa ini adalah hadits palsu. [4]

الصَّاـِٕمُ فِي عِبَادَةٍ وَ اِنْ كَانَ رَاقِدًا عَلى فِرَاشِهِ

“Orang yang berpuasa senantiasa dalam ibadah meskipun sedang tidur di atas ranjangnya.”

Lemah

Diriwayatkan oleh Tammam 18/172 berkata: “Telah mengkabarkan kepada kami Yahya bin Abdillah bin Zajjaj berkata: ‘Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Harun, telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Abdurrohman dari Hasyim bin Abu Huroiroh al-Homsi dari Hisyam bin Hassan dari Ibnu Sirin dari Salman bin Amir adh-Dhobbi secara marfu’”.

Sisi cacat hadits ini adalah adanya beberapa orang yang tidak dikenal, yaitu Yahya az Zajjaj dan Muhammad bin Harun.

Barangkali yang shohih, lafadz ini adalah ucapan Abul ‘Aliyah sebagaimana diriwayatkan oleh Abdulloh bin Imam Ahmad dalam Zawa’id Zuhd hlm.303 dengan tambahan lafadz: “Selagi tidak mnggunjing orang lain”. [5]

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ،وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

“Ya Alloh, untuk-Mu lah saya berpuasa dan atas rezeki-Mu lah saya berbuka.”

Lemah

Diriwayatkan oleh Abu Dawud:2358, Baihaqi 4/239, Ibnu Abi Syaibah: 9744, Ibnu Sunni: 479 dan Baihaqi dalam Syu’abul Iman: 3902 dari Mu’adz bin Zahroh bahwasanya sampai kepada dia bahwasanya Rosululloh apabila berbuka beliau berdo’a: -dengan do’a diatas-

Sisi cacat hadits ini dari tiga sisi:

Pertama: Majhulnya Mu’adz bin Zahroh.

Kedua: Dia itu seorang tabi’in yang langsung meriwayatkan dari Rosululloh, maka haditsnya mursal dho’if.

Ketiga: Sanad hadits ini mudhthorib.

Oleh karena itu dilemahkan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dan al-Albani. [6]

Berkata Abu Yusuf: “Do’a buka puasa yang shohih adalah:

ذَهَبَ الظَّمَأُوَابْتَلَّتِ العُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَاللَّهُ

“Telah hilang rasa haus dan telah basah kerongkongan serta tetaplah pahala insya Alloh. [7]

***

Rujukan:

Hadits Lemah dan Palsu yang Populer di Indonesia, Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf, Pustaka al-Furqon

[1] Lihat Taisir Mustholah Hadits oleh Syaikh Mahmud ath-Thohan hlm. 14

[2] Lihat Nuzhatun Nazhor ma’a Nukat oleh al-Hafizh Ibnu Hajar hlm. 52

[3] Lihat Muqadimah Ibnu Sholah hlm. 37, Tadribur Rowi oleh Imam as-Suyuthi 1/179, Ikhtishor Ulum Hadits oleh Imam Ibnu Katsir hlm. 44. Taudhihul Afkar oleh Imam ash-Shon’ani hlm. 1/247

[4] Lihat adh-Dho’ifah: 253

[5] Lihat adh-Dho’ifah: 653

[6] Lihat takhrij Adzkar hlm: 367, Irwa’: 919

[7] HR. Abu Dawud dan lainnya dengan sanad shohih. Lihat Irwa’: 920, Shohih Jami’ no. 4678

Sumber : klik disini Selengkapnya...

Sebuah Kalung Yang Mengingatkan Nabi –shallallahu 'alaihi wa sallam- Akan Cinta Pertamanya


Cinta pertama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dialah….Khadijah binti Khuwailid radhiallahu 'anhaa…

Bahkan Rasulullah pernah dengan bangganya berkata kepada Aisyah yang cemburu kepada Khadijah,

إِنِّي قَدْ رُزِقْتُ حُبَّهَا

"Sungguh Allah telah menganugrahkan kepadaku rasa cinta kepada Khadijah" (HR Muslim no 2435)

Imam An-Nawawi berkata, "Ini adalah isyarat bahwasanya mencintai Khadijah adalah kemuliaan" (Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim 15/201)


Dialah istri pertama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Selama hidup bersamanya kurang lebih 25 tahun Nabi sama sekali tidak menikahi wanita yang lain.

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, "Tidak ada perselisihan diantara para ulama bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak berpoligami sejak menikah dengan Khadijah hingga wafatnya Khadijah. Dan ini merupakan dalil akan besarnya kedudukan Khadijah di sisi Nabi dan bertambahnya kemuliaan Khadijah. Karena Nabi mencukupkan dirinya dengan Khadijah sehingga tidak berpoligami….sehingga Rasulullah telah menjaga hati Khadijah dari kecemburuan dan kepayahan yang ditimbulkan oleh para madu" (Fathul Baari 7/137)



Seorang wanita cemburu kepada wanita lain yang telah meninggal ??!!

Aisyah -istri yang paling dicintai oleh Nabi- tidak pernah cemburu kepada istri-istri Nabi yang lain sebagaimana kecemburannya kepada Khadijah… Padahal Khadijah telah meninggal dunia…!!! Seorang wanita cemburu kepada wanita yang telah meninggal dunia…???. Semuanya tidak lain melainkan karena begitu cintanya Nabi shallallau 'alaihi wa sallam kepada cinta pertamanya Khadijah meskipun telah tiada.

Aisyah radhiallahu 'anhaa bertutur:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ذَكَرَ خَدِيجَةَ أَثْنَى عَلَيْهَا فَأَحْسَنَ الثَّنَاءَ قَالَتْ فَغِرْتُ يَوْمًا فَقُلْتُ مَا أَكْثَرَ مَا تَذْكُرُهَا حَمْرَاءَ الشِّدْقِ قَدْ أَبْدَلَكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا خَيْرًا مِنْهَا قَالَ مَا أَبْدَلَنِي اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرًا مِنْهَا قَدْ آمَنَتْ بِي إِذْ كَفَرَ بِي النَّاسُ وَصَدَّقَتْنِي إِذْ كَذَّبَنِي النَّاسُ وَوَاسَتْنِي بِمَالِهَا إِذْ حَرَمَنِي النَّاسُ وَرَزَقَنِي اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَلَدَهَا إِذْ حَرَمَنِي أَوْلَادَ النِّسَاءِ

"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam jika menyebut tentang Khadijah maka iapun memujinya, dengan pujian yang sangat indah. Maka pada suatu hari akupun cemburu, maka aku berkata, "Terlalu sering engkau menyebut-nyebutnya, ia seorang wanita yang sudah tua. Allah telah menggantikannya buatmu dengan wanita yang lebih baik darinya". Maka Nabi berkata, "Allah tidak menggantikannya dengan seorang wanitapun yang lebih baik darinya. Ia telah beriman kepadaku tatkala orang-orang kafir kepadaku, ia telah membenarkan aku tatkala orang-orang mendustakan aku, ia telah membantuku dengan hartanya tatkala orang-orang menahan hartanya tidak membantuku, dan Allah telah menganugerahkan darinya anak-anak tatkala Allah tidak menganugerahkan kepadaku anak-anak dari wanita-wanita yang lain" (HR Ahmad no 24864 dan dishahihkan oleh para pentahqiq Musnad Ahmad)



Kenapa Nabi sangat mencintai Khadijah?

Bukanlah perkara yang mengherankan jika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sangat mencintai Khadijah. Hal ini dikarenakan banyak sebab diantaranya:

Pertama : Khadijah adalah cinta pertama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam

Tidak bisa dipungkiri bahwa memang cinta pertama sulit untuk dilupakan. Penyair berkata :




نَقِّلْ فُؤَادَكَ حَيْثُ شِئْتَ مِنَ الْهَوَى فَماَ الْحُبُّ إِلاَّ لِلْحَبِيْبِ الْأَوَّلِ

وَكَمْ مَنْزِلٍ فِي الْأَرْضِ يَأْلَفُهُ الْفَتَى وَحَنِيْنُهُ أبَدًا لِأَوَّلِ مَنْزِلِ

Pindahkanlah hatimu kepada siapa saja yang engkau mau……

Namun kecintaan (sejati) hanyalah untuk kekasih yang pertama

Betapa banyak tempat di bumi yang sudah biasa ditinggali seorang pemuda…..

Namun selamanya kerinduannya selalu kepada tempat yang pertama ia tinggali

Kedua : Khadijahlah yang telah memberikan keturunan kepadanya. Dari Khadijah Allah telah menganugrahkan kepada Nabi 2 orang putra (Abdullah dan Qoosim) dan 4 orang putri (Zainab, Ruqoyyah, Ummu Kaltsum, dan Fathimah)

Ketiga : Khodijah adalah orang pertama yang beriman kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam disaat kebanyakan orang mendustakan beliau.

Ibnu Hajar berkata : "Diantara keistimewaan Khadijah adalah ia adalah wanita pertama umat ini yang beriman, dan dialah yang pertama kali mencontohkan hal ini bagi setiap orang yang beriman setelahnya, maka bagi Khadijah seperti pahala seluruh wanita sesudahnya. Karena dalam hadits "Barangsiapa yang mencontohkan sunnah yang baik maka baginya seperti pahala orang yang menjalankannya…". Dan keistimewaan yang dimiliki oleh Khadijah ini juga dimiliki oleh Abu Bakar As-Shiddiiq berkaitan dengan pahala kaum pria yang beriman setelah Abu Bakar. Dan tidak ada yang mengetahui besarnya pahala yang diraih oleh Abu Bakar dan Khadijah karena keistimewaan ini kecuali Allah Azza wa Jalla" (Fathul Baari 7/137)

Keempat : Khadijahlah yang telah mengorbankan hartanya demi dakwah suaminya. Dialah yang ikut memikul beban dakwah yang dirasakan dan dipikul oleh sang suami. Tidak seperti sebagian wanita yang justru menghalangi suaminya untuk berdakwah…!!!

Kelima : Khodijah adalah seorang istri yang tatkala sang suami menghadapi kesulitan dan kegelisahan maka iapun bersegera menenangkan hatinya. Tidak sebagaimana sebagian istri yang semakin menambah beban sang suami yang sudah berat memikul beban kehidupan.

Tatkala Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam baru pertama kali menerima wahyu yang disampaikan oleh malaikat Jibril dengan bentuknya yang sangat dahsyat, maka Nabipun ketakutan dan segera turun dari gua Hiroo menuju rumah Khadijah, lantas ia berkata, لَقَدْ خَشِيْتُ عَلَى نَفْسِي “Aku mengkhawatirkan diriku”, maka Khadijah menenteramkan hati suaminya seraya berkata dengan perkataan yang indah yang terabadikan di buku-buku hadits,

كَلاَّ أَبْشِرْ فَوَاللهِ لاَ يُخْزِيْكَ اللهُ أَبَدًا فَوَاللهِ إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمِ وَتَصْدُقُ الْحَدِيْثَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَكْسِبُ الْمَعْدُوْمَ وَتَقْرِي الضَّيْفَ وَتُعِيْنُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ

“Sekali-kali tidak, bergembiralah !!!. Demi Allah sesungguhnya Allah selamanya tidak akan pernah menghinakanmu. Demi Allah sungguh engkau telah menyambung tali silaturahmi, jujur dalam berkata, membantu orang yang tidak bisa mandiri, engkau menolong orang miskin, memuliakan (menjamu) tamu, dan menolong orang-orang yang terkena musibah” (HR Al-Bukhari no 3 dan Muslim no 160)

Demikianlah sikap Khadijah yang mulia untuk menenangkan dan meyakinkan Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam. (silahkan baca kembali http://www.firanda.com/index.php/artikel/keluarga/119-suami-sejati-bag-2-qkehidupan-rasulullah-bersama-istri-istri-beliauq)

Keenam : Khadijah adalah seorang istri yang sangat taat kepada suaminya. Ia tidak pernah melelahkan suaminya…apalagi sampai membuat suaminya mengangkat suara, apalagi sampai mengangkat suaranya di hadapan suaminya. Serta ia adalah wanita yang sabar meskipun letih dalam mendidik anak-anaknya.

Abu Huroiroh radhiallahu 'anhu berkata:

أَتَى جِبْرِيْلُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ : يَا رَسُوْلَ الله هَذِهِ خَدِيْجَةُ قَدْ أَتَتْ مَعَهَا إِنَاءٌ فِيْهِ إِدَامٌ أَوْ طَعَامٌ أَوْ شَرَابٌ فَإِذَا هِيَ أَتَتْكَ فَاقْرَأْ عَلَيْهَا السَّلاَمَ مِنْ رَبِّهَا وَمِنِّي وَبَشِّرْهَا بِبَيْتٍ فِي الْجَنَّةِ مِنْ قَصب لاَ صَخَبَ فِيْهِ وَلاَ نَصْبَ

"Jibril mendatangi Nabi shallalllahu 'alaihi wa sallam lalu berkata, "Ya Rasulullah, Khadijah telah datang membawa tempayan berisi kuah daging atau makanan atau minuman, maka jika ia tiba sampaikanlah kepadanya salam dari Robnya dan dariku, serta kabarkanlah kepadanya dengan sebuah rumah di surga dari mutiara yang tidak ada suara keras (hiruk pikuk) di dalamnya dan juga tidak ada keletihan" (HR Al-Bukhari no 3820 dan Muslim no 2432)

Ganjaran pahala sesuai dengan perbuatan…, As-Suhaili berkata, "Tatkala Khadijah diseru oleh suaminya shallallahu 'alaihi wa sallam untuk masuk Islam maka serta merta beliau taat dan tidak menolak sehingga tidak perlu menjadikan suaminya untuk mengangkat suaranya dan tidak perlu keletihan. Bahkan Khadijah telah menghilangkan seluruh keletihan dari suaminya dan telah menghilangkan rasa kesendirian suaminya bahkan meringankan seluruh kesulitan suaminya, maka sangat sesuai jika rumahnya di surga yang telah diberi kabar gembira oleh Allah memiliki sifat-sifat yang sesuai" (Fathul Baari 7/138)

Khadijah dijanjikan sebuah rumah di surga, yaitu istana di surga, karena Khadijah adalah yang pertama kali membangun rumah Islam, tatkala itu tidak ada satu rumah Islampun di atas muka bumi. (Lihat Faidhul Qodiir 2/241)

Sebagian ulama menyatakan bahwa Khadijah diberi balasan dengan istana di surga yang tidak ada rasa letih sama sekali karena beliau telah letih dalam mendidik anak-anak beliau, maka sesuai jika dibalas dengan surga yang penuh dengan istirahat tanpa kelelahan sedikitpun (Kasyful Musykil min hadits as-shahihaini 1/444)



Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam terus mengenang Khadijah

Tiga tahun sebelum Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berhijroh ke Madinah, Khadijah wafat. Dan Nabi sangat bersedih atas wafatnya Khadijah, istri yang sangat dicintainya. Sampai-sampai para ahli sejarah menamakan tahun wafatnya Khadijah dengan tahun kesedihan bagi Nabi.

Setelah wafatnya Khadijah kecintaan Nabi tetap melekat di hati beliau. Beliau masih tetap sering menyebut-nyebut Khadijah…bahkan beliau memberikan hadiah kepada sahabat-sahabat Khadijah radhiallahu 'anhaa, hingga seakan-akan sepertinya tidak ada wanita di dunia ini kecuali Khadijah. Aisyah bertutur :

مَا غِرْتُ عَلَى أَحَدٍ مِنْ نِسَاءِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم مَا غِرْتُ عَلَى خَدِيْجَةَ وَمَا رَأَيْتَهَا وَلَكِنْ كَانَ النبي صلى الله عليه وسلم يُكْثِرُ ذِكْرَهَا وَرُبَّمَا ذَبَحَ الشَّاةَ ثُمَّ يَقْطَعُهَا أَعْضَاءَ ثُمَّ يَبْعَثُهَا فِي صَدَائِقِ خَدِيْجَةَ فَرُبَّمَا قُلْتُ لَهُ كَأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ فِي الدُّنْيَا امْرَأَةٌ إِلاَّ خَدِيْجَةُ فَيَقُوْلُ إِنَّهَا كَانَتْ وَكَانَتْ وَكَانَ لِي مِنْهَا وَلَدٌ

“Aku tidak pernah cemburu pada seorangpun dari istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti kecemburuanku pada Khadijah. Aku tidak pernah melihatnya akan tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menyebut namanya. Terkadang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih seekor kambing kemudian beliau memotong-motongnya lalu mengirimkannya kepada sahabat-sahabat Khadijah. Terkadang aku berkata kepadanya, “Seakan-akan di dunia ini tidak ada wanita yang lain kecuali Khadijah”, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Dia itu wanita yang demikian dan demikian dan aku memiliki anak-anak darinya….” (HR Al-Bukhari no 3907)



Kalung Sang Kekasih….


Ibnu Ishaaq rahimahullah berkata dalam sirohnya :

"Abul 'Aash bin Ar-Robii' adalah salah seorang dari penduduk kota Mekah yang dikenal dengan perdagangannya, hartanya yang banyak, serta terkenal dengan sifat amanah. Abul 'Aash adalah keponakan Khadijah (karena Ibu Abul 'Aash adalah Haalah binti Khuwailid, saudari perempuan Khodijah Binti Khuwailid radhiallahu 'anhaa).

Khoodijahlah yang telah meminta Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menikahkan Abul 'Aaash dengan Zainab putri Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Dan Nabi tidak menyelisihi permintaan Khodiijah, maka Nabipun menikahkan putrinya Zainab dengan Abul 'Aaash. Dan pernikahan ini terjadi sebelum turun wahyu (sebelum Nabi diangkat menjadi seorang Nabi). Bahkan Nabi menganggap Abul 'Aash seperti anak senidiri.

Tatkala Allah memuliakan Nabi dengan wahyu kenabian maka berimanlah Khodijah serta seluruh putri-putrinya termasuk Zainab, akan tetapi Abul 'Aash (suami Zainab) tetap dalam keadaan musyrik.

Nabi juga telah menikahkan salah seorang putrinya (Ruqooyah atau Ummu Kaltsuum) dengan putra Abu Lahab yaitu 'Utbah bin Abi Lahab.

Tatkala Nabi mendakwahkan perintah Allah dan menunjukkan permusuhan kepada kaum musyrikin maka mereka berkata, "Kalian telah menyantaikan Muhammad dari kesulitannya, kembalikanlah putri-putrinya agar ia tersibukkan dengan putri-putrinya !!".

Merekapun mendatangi 'Utbah putra Abu Lahab lalu berkata, "Ceraikanlah putri Muhammad, maka niscaya kami akan menikahkan engkau dengan wanita Quraisy mana saja yang kau kehendaki !!". 'Utbah berkata, "Aku akan menceraikannya dengan syarat kalian menikahkan aku dengan putrinya Sa'iid bin Al-'Aash". Maka merekapun menikahkan 'Utbah dengan putri Sa'iid bin Al-'Aaash dan Utbahpun menceraikah putri Nabi sebelum berhubungan tubuh dengannya. Dengan perceraian tersebut Allah telah memuliakan putri Nabi dan sebagai kehinaan bagi 'Utbah. Setelah putri Nabi diceraikan oleh 'Utbah maka dinikahi oleh 'Utsmaan bin 'Afaan radhiallahu 'anhu.

Para pembesar-pembesar kafir Quraisypun mendatangi Abul 'Aash lalu mereka berkata, "Ceraikanlah istrimu itu, kami akan menikahkan engkau dengan wanita mana saja yang engkau sukai dari Quraish !!". Abul 'Aash berkata, "Demi Allah aku tidak akan menceraikan istriku, dan aku tidak suka istriku diganti dengan wanita Qurasih mana saja" (Perkataan Ibnu Ishaaq ini dinukil oleh Ibnu Hisyaam dalam sirohnya 1/651-652 dan Ibnu Katsiir dalam Al-Bidaayah wa An-Nihaayah 3/379)

Khadijah radhiallahu 'anhaa memiliki sebuah kalung yang dipakainya. Tatkala Zainab putrinya menikah dengan keponakan Khadija Abul 'Aash maka Khadijah menghadiahkan kalung tersebut kepada Zainab untuk dikenakan oleh Zainab tatkala malam pengantin dengan Abul 'Aaash.

Setelah Nabi diberi wahyu kenabian maka seluruh putri-putri Nabi masuk Islam. Adapun Abul 'Aash suami Zainab tetap dalam kemusyrikannya.

Ibnu Ishaaq rahimahullah berkata, "Rasulullah tatkala di Mekah tidak bisa menghalalkan dan mengharamkan, beliau tidak berkuasa. Islam telah memisahkan antara Zainab dengan Abul 'Aash bin Ar-Robii', hanya saja Rasulullah tidak mampu untuk memisahkan mereka beruda. Maka Zainabpun tinggal bersama Abul 'Aash yang dalam keadaan musyrik hingga Rasulullah berhijrah ke Madinah.

Tatkala terjadi perang Badar dan diantara pasukan Quraisy adalah Abul 'Aash bin Ar-Robii' yang akhirnya menjadi tawanan perang Badar, lalu dibawalah ia di sisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di Madinah" (Sebagaimana dinukil oleh Ibnu Hisyaam dalam sirohnya 1/252 dan Ibnu Katsiir dalam Al-Bidaayah wa An-Nihaayah 3/379-380)

Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan kesempatan kepada penduduk Mekah yang mau membebaskan para tawanan perang Badar untuk membayar tebusan. Diantara mereka ada yang dibayar hingga 4000 dirham (sekitar 400 dinar, dan satu dinar kurang lebih 4 1/4 gram emas) seperti Abu Wadaa'ah, ada yang ditebus dengan 100 uqiyah (sekitar 3 kg emas, karena 1 uuqiyah sekitar 30 gram emas) seperti Al-Abbas bin Abdil Muttholib, dan ada yang hanya 40 uuqiyah seperti Al-'Aqiil bin Abi Tholib. (Lihat As-Siiroh An-Nabawiyah fi Dhoi Al-Mashoodir Al-Ashliyah hal 359)



Kalung Yang Mengingatkan Nabi Kepada Cinta Pertamanya…

Tatkala Zainab yang berada di Mekah mendengar bahwa suaminya Abul 'Aaash menjadi tawanan perang di Madinah maka iapun hendak menebus suaminya. Akan tetapi Zainab tidaklah memiliki apa-apa untuk menebus sang suami yang ia cintainya, kecuali hanya sedikit harta dan kalung pemberian ibunya Khadijah sebagai hadiah pernikahannya dengan suaminya.

Aisyah radhiallahu 'anhaa berkata :

لَمَّا بَعَثَ أَهْلُ مَكَّةَ فِى فِدَاءِ أَسْرَاهُمْ بَعَثَتْ زَيْنَبُ فِى فِدَاءِ أَبِى الْعَاصِ بِمَالٍ وَبَعَثَتْ فِيهِ بِقِلاَدَةٍ لَهَا كَانَتْ عِنْدَ خَدِيجَةَ أَدْخَلَتْهَا بِهَا عَلَى أَبِى الْعَاصِ. قَالَتْ فَلَمَّا رَآهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- رَقَّ لَهَا رِقَّةً شَدِيدَةً وَقَالَ « إِنْ رَأَيْتُمْ أَنْ تُطْلِقُوا لَهَا أَسِيرَهَا وَتَرُدُّوا عَلَيْهَا الَّذِى لَهَا ». فَقَالُوا نَعَمْ. وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَخَذَ عَلَيْهِ أَوْ وَعَدَهُ أَنْ يُخَلِّىَ سَبِيلَ زَيْنَبَ إِلَيْهِ وَبَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَيْدَ بْنَ حَارِثَةَ وَرَجُلاً مِنَ الأَنْصَارِ فَقَالَ « كُونَا بِبَطْنِ يَأْجِجَ حَتَّى تَمُرَّ بِكُمَا زَيْنَبُ فَتَصْحَبَاهَا حَتَّى تَأْتِيَا بِهَا ».

"Tatkala penduduk Mekah mengirim harta untuk menebus para tawanan mereka, maka Zainabpun mengirim sejumlah harta untuk menebus suaminya Abul 'Aash, dan Zainab mengirim bersama harta tersebut sebuah kalung yang dahulunya milik Khadijah, lalu Khadijah memberikan kalung tersebut kepada Zainab tatkala Zainab menikah dengan Abul 'Aash.

Maka tatkala kalung tersebut dilihat oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam maka Rasulullahpun sangat sedih kepada Zainab. Beliaupun berkata (kepada para sahabatnya), "Jika menurut kalian bisa untuk membebaskan tawanan Zainab dan kalian kembalikan lagi kalungnya ??". Maka para sahabat berkata, "Iya Rasulullah". Akan tetapi Rasulullah shallallahu 'alaih wa sallam mengambil janji dari Abul 'Aaash agar membiarkan Zainab ke Madinah. Lalu Rasulullah mengirim Zaid bin Haaritsah dan seseorang dari Anshoor (untuk menjemput Zainab), dan beliau berkata kepada mereka berdua, "Hendaknya kalian berdua menunggu di lembah Ya'jij hingga Zainab melewati kalian berdua, lalu kalian berdua menemaninya hingga kalian membawanya di Madinah" (HR Abu Dawud no 2694 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)

Tatkala Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melihat kalung tersebut maka Nabipun sangat sedih karena mengingat kondisi putrinya Zainab yang bersendirian di Mekah, dan juga sangat sedih karena mengingat kembali cinta pertamanya Khadijah radhiallahu 'anhaa dan bagaimana kesetiaan istrinya Khadijah, karena kalung tersebut dahulunya adalah milik Khadijah dan dipakai oleh Khadijah di lehernya radhiallahu 'anhaa' (Lihat 'Auunul Ma'buud 7/254). Kalung tersebut mengingatkan beliau kepada Khadijah yang sangat dicintainya yang merupakan ibu dari anak-anaknya. (Lihat Al-Fath Ar-Robbaaniy 14/100-101). Hal inilah yang menjadikan Nabi membebaskan Abul 'Aash suami putrinya Zainab dan sekaligus keponakan Istrinya Khodijah tanpa tebusan sama sekali.


Kota Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-, 03-03-1433 H / 25 Januari 2011 M


Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja

sumber : klik disini Selengkapnya...

Rabu, 01 Februari 2012

Keutamaan Ikhlas ( bag.3 )


Penulis : Ustadz Firanda Andirja

Keenam : Ikhlas merupkan sebab dikabulkannya doa dan dihilangkannya kesulitan

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :


خَرَجَ ثَلاَثَةٌ يَمْشُونَ فَأَصَابَهُمْ الْمَطَرُ فَدَخَلُوا في غَارٍ في جَبَلٍ فَانْحَطَّتْ عليهم صَخْرَةٌ قال فقال بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ادْعُوا اللَّهَ بِأَفْضَلِ عَمَلٍ عَمِلْتُمُوهُ فقال أَحَدُهُمْ اللهم إني كان لي أَبَوَانِ شَيْخَانِ كَبِيرَانِ فَكُنْتُ أَخْرُجُ فَأَرْعَى ثُمَّ أَجِيءُ فَأَحْلُبُ فَأَجِيءُ بِالْحِلَابِ فَآتِي بِهِ أَبَوَيَّ فَيَشْرَبَانِ ثُمَّ أَسْقِي الصِّبْيَةَ وَأَهْلِي وَامْرَأَتِي فَاحْتَبَسْتُ لَيْلَةً فَجِئْتُ فإذا هُمَا نَائِمَانِ قال فَكَرِهْتُ أَنْ أُوقِظَهُمَا وَالصِّبْيَةُ يَتَضَاغَوْنَ عِنْدَ رِجْلَيَّ فلم يَزَلْ ذلك دَأْبِي وَدَأْبَهُمَا حتى طَلَعَ الْفَجْرُ اللهم إن كُنْتَ تَعْلَمُ أَنِّي فَعَلْتُ ذلك ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ عَنَّا فُرْجَةً نَرَى منها السَّمَاءَ قال فَفُرِجَ عَنْهُمْ وقال الْآخَرُ اللهم إن كُنْتَ تَعْلَمُ أَنِّي كنت أُحِبُّ امْرَأَةً من بَنَاتِ عَمِّي كَأَشَدِّ ما يُحِبُّ الرَّجُلُ النِّسَاءَ فقالت لَا تَنَالُ ذلك منها حتى تُعْطِيَهَا مِائَةَ دِينَارٍ فَسَعَيْتُ فيها حتى جَمَعْتُهَا فلما قَعَدْتُ بين رِجْلَيْهَا قالت اتَّقِ اللَّهَ ولا تَفُضَّ الْخَاتَمَ إلا بِحَقِّهِ فَقُمْتُ وَتَرَكْتُهَا فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنِّي فَعَلْتُ ذلك ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ عَنَّا فُرْجَةً قال فَفَرَجَ عَنْهُمْ الثُّلُثَيْنِ وقال الْآخَرُ اللهم إن كُنْتَ تَعْلَمُ أَنِّي اسْتَأْجَرْتُ أَجِيرًا بِفَرَقٍ من ذُرَةٍ فَأَعْطَيْتُهُ وَأَبَى ذَاكَ أَنْ يَأْخُذَ فَعَمَدْتُ إلى ذلك الْفَرَقِ فَزَرَعْتُهُ حتى اشْتَرَيْتُ منه بَقَرًا وَرَاعِيهَا ثُمَّ جاء فقال يا عَبْدَ اللَّهِ أَعْطِنِي حَقِّي فقلت انْطَلِقْ إلى تِلْكَ الْبَقَرِ وَرَاعِيهَا فَإِنَّهَا لك فقال أَتَسْتَهْزِئُ بِي قال فقلت ما أَسْتَهْزِئُ بِكَ وَلَكِنَّهَا لك اللهم إن كُنْتَ تَعْلَمُ أَنِّي فَعَلْتُ ذلك ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ عَنَّا فَكُشِفَ عَنْهُمْ

"Tiga orang (dari orang-orang terdahulu sebelum kalian) keluar berjalan lalu turunlah hujan menimpa mereka, maka mereka lalu masuk ke dalam gua di sebuah gunung. Lalu jatuhlah sebuah batu (dari gunung hingga menutupi mulut gua), lalu sebagian mereka berkata kepada yang lainnya, “Berdoalah kepada Allah dengan amalan yang terbaik yang pernah kalian amalkan!”. Maka salah seorang diantara mereka berkata, “Ya Allah aku memiliki dua orangtuaku yang telah tua (dan aku memiliki anak-anak kecil), (pada suatu waktu) aku keluar untuk menggembala lalu aku kembali, lalu aku memerah susu lalu aku datang membawa susu kepada mereka berdua lalu mereka berdua minum kemudian aku memberi minum anak-anakku, keluargaku, dan istriku. Pada suatu malam aku tertahan (terlambat) dan ternyata mereka berdua telah tertidur (maka akupun berdiri di dekat kepala mereka berdua aku tidak ingin membangunkan mereka berdua dan aku tidak ingin memberi minum anak-anakku), maka aku tidak ingin membangunkan mereka berdua padahal anak-anakku berteriak-teriak menangis di kedua kakiku (dan aku tetap diam di tempat dan gelas berada di tanganku, aku menunggu mereka berdua bangun dari tidur mereka) dan demikian keadaannya hingga terbit fajar. Ya Allah jika Engkau mengetahui bahwasanya aku melakukan hal itu karena mengharap wajahMu maka bukalah bagi kami celah hingga kami bisa melihat langit”, maka dibukakan celah bagi mereka. Orang yang kedua berkata, "Yaa Allah Engkau sungguh telah mengetahui bahwasanya aku pernah mencintai seorang wanita salah seorang putri-putri pamanku, aku sangat mencintainya. Akan tetapi ia berkata : "Engkau tidak akan bisa meraih cintanya hingga engkau memberikan kepadanya seratus keping dinar". Maka akupun berusaha hingga aku berhasil mengumpulkan uang dinar tersebut. Tatkala aku telah duduk di antara dua kakinya (untuk menzinahinya-pen) maka iapun berkata, "Bertakwalah engkau kepada Allah, dan janganlah engkau pecahkan (buka) cincin kecuali dengan haknya". Maka akupun pergi meninggalkannya. Ya Allah jika Engkau mengetahui bahwasanya aku melakukan hal itu karena mengharap wajahMu maka bukalah bagi kami celah hingga kami bisa melihat langit. Maka Allah pun membuka dua pertiga celah (namun mereka belum bisa keluar-pen).


Orang yang ketiga berkata, "Yaa Allah Engkau sungguh telah mengetahui bahwasanya aku pernah menyewa seorang pekerja dengan upah tiga soo' jagung (sekitar 9 kg jagung-pen), akupun memberikannya kepadanya akan tetapi ia enggan untuk menerimanya. Maka akupun mengolah upahnya tersebut maka akupun menanam jagung tersebut hingga akhirnya hasilnya aku gunakan untuk membeli sapi-sapi dan para penggembalanya. Kemudian iapun datang dan berkata kepadaku, Wahai Abdullah (fulan) bayarlah upahku!". Aku berkata, "Pergilah engkau ke sapi-sapi itu dan para penggembalanya , seluruhnya adalah milikmu". Ia berkata, "Apakah engkau memperolok-olok aku?". Aku berkata, "Aku tidak sedang memperolok-olokmu, akan tetapi semuanya itu benar-benar milikmu". Ya Allah jika Engkau mengetahui bahwasanya aku melakukan hal itu karena mengharap wajahMu maka bukalah celah bagi kami". Maka terbukalah pintu gua dari batu tersebut. (HR Al-Bukhari no 2102)

Perhatikanlah ketiga orang tersebut berusaha mencari amalan sholeh yang merupakan amalan terbaik mereka dan amalan yang bisa mereka harapkan untuk menghilangkan kesulitan yang mereka hadapi. Dan sungguh amalan yang mereka lakukan merupakan amalan yang berat dan sangat tinggi nilainya di sisi Allah. Akan tetapi mereka bertiga sadar bahwasanya betapapun besar amalan yang mereka lakukan maka tidak akan bisa bermanfaat dan tidak akan bisa membebaskan mereka dari kesulitan kecuali jika amalan tersebut dikerjakan ikhlash karena Allah. Oleh karenanya tatkala berdoa dan memohon kepada Allah mereka berkata, "Yaa Allah jika Engkau mengetahui bahwasanya amalanku ini ikhlash karena mengaharap wajahmu…"

Karenanya -para pembaca yang budiman- yakinlah bahwasanya ikhlash merupakan salah satu sebab terbesar yang bisa mengangkat kerendahan dan keterpurukan yang sedang menimpa umat Islam. Sungguh umat ini tidak akan jaya kecuali berkat doa orang-orang yang ikhlash. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

إنما يَنْصُرُ الله هذه الْأُمَّةَ بِضَعِيفِهَا بِدَعْوَتِهِمْ وَصَلَاتِهِمْ وَإِخْلَاصِهِمْ

"Sesungguhnya Allah hanyalah menolong umat ini dengan sebab oarng-orang lemah mereka, yaitu dengan doa mereka, sholat mereka, dan keikhlasan mereka" (HR An- Nasaai no 3178, dishahihkan oleh Albani)



Ketujuh : Keikhlasan memperbanyak ganjaran pahala seseorang

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

صَلاَةُ الرَّجُلِ تَطَوُّعاً حَيْثُ لاَ يَرَاهُ النَّاسُ تَعْدِلُ صَلاَتَهُ عَلَى أَعْيُنِ النَّاسِ خَمْساً وَعِشْرِيْنَ

"Sholat sunnahnya seseorang yang dikerjakan tanpa dilihat oleh manusia niainya sebanding dengan dua puluh lima sholat sunnahnya yang dilihat oleh mata-mata manusia" (HR Abu Ya'la dalam musnadnya dan dishahihkan oleh Albani dalam As-Shahihah pada penjelasan hadits no 3149)

Dalam hadits yang lain Rasulullah bersabda :

تَطَوُّعُ الرَّجُلِ فِي بَيْتِهِ يَزِيْدُ عَلَى تَطَوُّعِهِ عِنْدَ النَّاسِ، كَفَضْلِ صَلاَةِ الرَّجُلِ فِي جَمَاعَةٍ عَلَى صَلاَتِهِ وَحْدَهُ

"Sholat sunnahnya seseorang di rumahnya lebih bernilai dari pada sholat sunnahnya di hadapan manusia, sebagaimana keutamaan sholat seseorang bersama jama'ah dibandingkan jika ia sholat munfarid (tidak berjamaah)" (Hadits ini dishahihkan oleh Albani dalam as-Shahihah no 3149)

Hadits ini menegaskan bahwasanya semakin ikhlas amalan seseorang –yaitu hanya Allah yang mengetahuinya- maka semakin besar ganjarannya di sisi Allah. Tentunya amalan yang tersembunyi dari pandangan manusia lebih dekat kepada keikhlasan dan lebih jauh dari riyaa' dan ujub. Oleh karenanya sedekah yang dikeluarkan secara tersembunyi lebih tinggi nilainya dari pada sedekah yang dikeluarkan di hadapan manusia. Nabi shallallahu 'aliahi wa sallam bersabda;

صَدَقَةُ السِّرِّ تُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ

"Sedekah yang dikeluarkan secara sembunyi-sembunyi memadamkan kemurkaan Allah" (Dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam as-Shahihah no 1908)



Kedelapan : Ikhlash merupakan sebab menangnya orang yang lemah atas orang yang kuat

Allah berfirman :

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا (١٨)وَمَغَانِمَ كَثِيرَةً يَأْخُذُونَهَا وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا (١٩

Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, Maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi Balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya), serta harta rampasan yang banyak yang dapat mereka ambil. dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS Al-Fath 18-19)

Syaikh Muhammad Al-Amiin As-Syinqithi berkata, "Tatkala Allah Azza wa Jalla mengetahui keikhlasan yang sempurna dari para sahabat yang melakukan bai'at ridwan… maka diantara buah dari keikhlasan tersebut adalah apa yang disebutkan oleh Allah dalam firmanNya

وَأُخْرَى لَمْ تَقْدِرُوا عَلَيْهَا قَدْ أَحَاطَ اللَّهُ بِهَا وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرًا (٢١

Dan (telah menjanjikan pula kemenangan-kemenangan) yang lain (atas negeri-negeri) yang kamu belum dapat menguasainya yang sungguh Allah telah menentukan-Nya. dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (QS Al-Fath 21).

Maka Allah menjelaskan dalam ayat ini bahwasanya mereka (para sahabat-pen) tidak mampu (menaklukkan negeri-negeri tersebut seperti Persia dan Rumawi-pen) dan bahwasanya Allah menguasai negeri-negeri tersbut maka Allah pun menjadikan para sahabat mampu untuk menaklukkan negeri-negeri tersebut. Hal ini merupakan buah dari kuatnya keimanan mereka dan kokohnya keikhlasan mereka. Maka ayat di atas menunjukkan bahwasanya keikhlasan kepada Allah dan kekuatan iman kepada Allah adalah sebab mampunya si lemah untuk menguasai dan mengalahkan si kuat.

كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. dan Allah beserta orang-orang yang sabar " (Adwaaul Bayaan 3/51-52)



Kesembilan : Orang yang ikhlash adalah orang yang paling bahagia dalam meraih syafa'at Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pada hari kiamat kelak

عن أبي هريرة قال : يا رَسُولَ اللَّهِ من أَسْعَدُ الناس بِشَفَاعَتِكَ يوم الْقِيَامَةِ قال رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لقد ظَنَنْتُ يا أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْ لَا يَسْأَلُنِي عن هذا الحديث أَحَدٌ أَوَّلُ مِنْكَ لِمَا رأيت من حِرْصِكَ على الحديث أَسْعَدُ الناس بِشَفَاعَتِي يوم الْقِيَامَةِ من قال لَا إِلَهَ إلا الله خَالِصًا من قَلْبِهِ

Dari Abu Huroiroh radhiallahu 'anhu, ia berkata, "Wahai Rasulullah, siapakah yang paling berbahagia dengan syafa'atmu pada hari kiamat?". Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, "Aku telah menyangka bahwasanya tidak ada seorangpun yang mendahuluimu bertanya kepadaku tentang hadits ini, karena aku melihat semangatmu dalam mencari hadits. Orang yang paling berbahagia dengan syafa'atku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan Laa ilaah ilallaah ikhlash dari hatinya" (HR Al-Bukhari no 99)

Ibnu Taimiyyah berkata, "Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan bahwasanya orang yang paling berhak memperoleh syafa'at Nabi pada hari kiamat adalah orang yang paling tinggi tauhid dan keikhlasannya" (Majmuu' Al-Fataawaa 1/212)





Kota Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-, 05 Februari 2011

Sumber : Klik disini Selengkapnya...